LES MISÉRABLES (Part 1)
Karya Victor Hugo
FANTINE
Seorang Lelaki Yang Tulus
Uskup di
Saat Monsieur Myriel tiba di D__, ia ditemani oleh seorang perempuan tua, Mademoiselle Baptistine, yang merupakan suadarinya dan berumur sepuluh tahun lebih muda.
Pembantu mereka adalah seorang perempuan yang kira-kira seumur dengan Mademoiselle Baptistine dan dipanggil Madame Magloire. Setelah menjadi pelayan Monsieur Pastor Paroki, kini dia berperan ganda sebagai pembantu rumah tangga bagi Mademoiselle dan perawat rumah Monsinyur.
Monsieur Myriel saat baru tiba ditempatkan di Istana Keuskupan dengan penahbisan kehormatan melalui dekrit resmi yang menggolongkan uskup hamper sederajat dengan panglima tertinggi setempat. Walikota dan pejabat negara menjadikannya tempat kunjungan pertama dan sebaliknya ia pun melakukan kunjungan kehormatan kepada Jenderal dan Kepala Daerah.
Penahbisannya telah sempurna dan kini seisi
Istana uskup di D__ bersebelahan dengan sebuah rumah sakit. Istana itu merupakan bangunan besar yang lapang dan indah, dibangun dari batu sekitar awal abad silam.
Adapun rumah sakit di sebelahnya berupa bangunan satu lantai yang sempit dan rendah dengan sebuah taman yang mungil.
Tiga hari setelah penahbisan uskup, ia mengunjungi rumah sakit. Saat kunjungan berakhir, ia mengundang kepala rumah sakit untuk datang ke istananya.
“Monsieur,” ujarnya pada kepala rumah sakit, “ada berapa pasien yang anda punya?”
“Dua puluh enam orang, Monsinyur.”
“Sama seperti hitunganku,” kata Uskup.
Uskup itu memandang berkeliling ruangan, seolah tengah mengukur dan membuat perhitungan.
“Cukup untuk dua puluh ranjang,” ujarnya pada diri sendiri, lalu mengeraskan suaranya dan berkata, “Dengarlah apa yang kukatakan, Monsieur.
Esok harinya dua puluh enam orang sakit dipindahkan ke istana uskup dan uskup itu tinggal di rumah sakit.
Dalam waktu singkat sumbangan uang mulai berdatangan. Mereka yang berpunya dan yang tidak, semuanya mengetuk rumah Uskup. Sebagian untuk menerima sedekah, sebagian lagi datang untuk berderma. Kurang dari setahun, ia telah menjadi tempat berlabuh bagi semua dermawan dan loket pengambilan bagi mereka yang membutuhkan. Banyak derma telah disalurkan melalui tangannya. Namun,
Pada sisi lain, karena selalu ada lebih banyak kesengsaraan di kalangan kelas bawah dibanding rasa kemanusiaan di kalangan orang berpunya, bias dibilang semuanya telah habis didermakan sebelum bias diterima oleh semua orang yang berhak, seperti air cepat terserap di tanah tandus. Untunglah uang selalu datang padanya karena ia tak pernah punya simpanan uang, dan ia sering mendermakan uangnya sendiri. Sudah menjadi adat bahwa semua uskup harus memberikan nama baptis di kepala surat-surat perintah dan keimaman mereka. Orang-orang miskin di daerah itu dengan semacam naluri penyayang telah memilih nama yang menyuarakan perasaan mereka di antara banyak nama milik sang uskup. Mereka selalu memanggilnya Bienvenu, yang artinya orang yang disambut kedatangannya.
Pada tahun 1815 ia mencapai usia tujuh puluh enam tahun. Tubuhnya tidak tinggi, agak gemuk dan ia kerap berjalan jauh sehingga membuatnya tidak menjadi lebih gemuk. Langkahnya tegas dan hanya agak bungkuk. Namun, dari kebungkukannya itu kita tidak dapat menyimpulkan apapun – Gregorius XVI pada usia delapan puluh tahun masih tegak dan penuh senyum dan itu tak mencegahnya menjadi seorang uskup yang buruk. Monsinyur Bienvenu memiliki apa yang disebut orang “kepala yang bagus”, tetapi ia begitu bijak sehingga kau akan lupa betapa bagusnya kepala itu.
Saat ia berbicara dengan keramahan polos yang menjadi salah satu sifat baiknya, segalanya terasa tenang berkat kehadirannya, dan pribadinya tampak memancarkan kebahagiaan. Kulitnya yang segar dan kemerahan, gigi putihnya yang terawatt dan terlihat bila ia tertawa, semua membuatnya tampak santai dan terbuka, membuat kita mengomentari orang-orang seperti itu: ia adalah pemuda yang baik; dan mengenai orang-orang yang lebih tua: ia adalah orang yang baik. Pada pandangan pertama bagi orang yang baru sekali melihatnya, ia hanyalah seorang lelaki yang baik. Namun, bila kita menghabiskan waktu beberapa jam dengannya dan melihatnya tengah berfikir, sedikit demi sedikit sosok baik hati itu berubah, dan niscaya menjadi sosok yang agung. Keningnya yang lebar dan lingkari rambut putih menjadi tampak mulia karena perenungan. Kemuliaan itu berasal dari kebaikan, tetapi kebaikan itu tetap memancar dan kita merasakan suatu emosi seperti yang mungkin melanda kita saat melihat sesosok malaikat sedang tersenyum seraya mengembangkan sayapnya perlahan tanpa berhenti tersenyum. Rasa hormat yang tak terkatakan perlahan melanda dirimu dan menyentuh hatimu. Kau akan merasa bahwa di hadapanmu hadir sesosok jiwa yang kuat, amanah, dan penuh kasih. Pikiran itu begitu luar biasa melanda sehingga tak bias lain kecuali terasa lembut-rawan.
Seperti yang kita tahu, doa, perayaan resmi keagamaan, sedekah, menghibur orang susah, pengolahan tanah, persaudaraan, kesahajaan, pengorbanan diri, kepercayaan, belajar dan bekerja, telah mengisi kehidupannya setiap hari. Mengisi adalah kata yang tepat. Memang sesungguhnya hari-hari sang uskup penuh dengan pikiran-pikiran baik, kata-kata yang baik, dan amalan-amalan yang baik. Namun masih ada lagi yang mengisi harinya. Jika cuaca tidak dingin atau hujan, ia biasa berjalan-jalan sejam dua jam di malam hari dalam taman sebelum waktunya tidur, ketika kedua perempuan telah beristirahat. Tampaknya bersiap tidur dengan merenung di bawah naungan angkasa berbintang telah menjadi semacam ritus baginya. Terkadang di larut malam, jika kedua perempuan itu terjaga, mereka mendengarnya berjalan-jalan dengan langkah perlahan. Ia di sana sendirian bersama dirinya sendiri, tenang, damai, penuh kasih, membandingkan ketenangan hatinya dengan keheningan langit, digerakkan dalam kegelapan oleh gemerlap gugusan bintang yang kasatmata dan kemegahan Tuhan yang tersembunyi, membuka jiwanya pada pikiran-pikiran yang turun dari Yang Maha Gaib. Dalam saat-saat semacam itu ia sendiri tak bisa mengutarakan apa yang terlintas dalam benaknya, saat ia membuka hatinya sementara bebunggaan malam mengeluarkan wewangian mereka, bersinar seperti lampu di tengah malam berbintang, meluaskan jiwanya dalam ekstase di tengah cahaya semesta dunia. Ia merasa sesuatu tercerabut dari dirinya dan sesuatu merasukinya, pertukaran misterius antara kedalaman jiwa dengan kedalaman semesta.
Ia biasa duduk di atas sebuah bangku kayu, bersandar pada terali yang patah dan menatap bintang-bintang melalui sileut pohon-pohon buah yang tak beraturan. Halaman ini hanya seluas satu akre, tak terlalu subur, penuh dengan puing, tetapi amat disayanginya, amat memuaskannya.
Apa lagi yang dibutuhkan oleh seorang lelaki tua yang membagi sedikit saat santai dalam hidupnya antara berkebun di siang hari dan merenung di malam hari? Bukankah tempat yang sempit ini, dengan langit sebagai latar, cukup baginya untuk memuja Tuhan atas ciptaan-ciptaan-Nya yang paling indah dan paling sublim? Apa lagi yang masih perlu dihasrati? Sebuah taman mungil untuk berjalan-jalan dan keluasan langit untuk direnungi. Di bawah kakinya ada sesuatu yang siap ditanami, di atas kepalanya ada sesuatu yang siap dikaji dan direnungi: serumpun bunga di muka bumi dan segenap bintang di langit luas. ….
Demikian sekelumit karya sastra sang Maestro Sastra Eropa pada abad pertengahan. Patut dibaca kelanjutan kisahnya dan sejumlah karyanya yang lain. Pembaca dapat memperoleh buku terbitan PT. Bentang Pustaka ini di toko-toko, atau dapat pula menghubungi kami melalui Tuhadroe@plasa.com atau longna@plasa.com.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar