Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis (Bag. 2)

Jumat, 11 Januari 2008

Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis (Bag. 2)

(By The River Piedra I Sit Down and Wept)

Oleh : Paulo Coelho

Sabtu, 4 Desember 1993

Tempat pertemuan itu ternyata lebih formal daripada yang kubayangkan. Yang hadir lebih banyak daripada yang kuharapkan. Bagaimana semua ini bisa terjadi?.

Dia pasti orang terkenal, pikirku. Dalam suratnya, ia tak pernah mengatakan apa-apa tentang hal ini. Ingin rasanya menghampiri orang-orang ini, bertanya mengapa mereka ada di sini. Namun aku tak punya keberanian.

Aku semakin terkejut saat melihatnya memasuki ruangan. Ia berbeda dengan anak laki-laki yang kukenal dulu – tapi tentu saja, dua belas tahun telah berlalu; manusia berubah. Malam ini matanya bercahaya – ia tampak mengagumkan.

“Dia mengembalikan apa yang jadi milik kita,” wanita yang duduk disebelahku berkata.

Ucapannya aneh.

“Apa yang dikembalikannya?” aku bertanya.

“Yang telah dicuri dari kita. Kepercayaan.”

“Tidak, tidak, dia tidak mengembalikan apapun,” sergah perempuan lebih muda yang duduk di sisi kananku. “Mereka tak bisa mengembalikan apa yang selalu jadi milik kita.”

“Apa yang kau lakukan di sini kalau begitu?” wanita pertama bertanya dengan jengkel.

“Aku ingin mendengarkan khotbahnya. Aku ingin tahu cara mereka berfikir; mereka pernah membakar kita di tiang pembakaran, mungkin saja mereka ingin melakukannya lagi.”

“Dia hanyalah satu suara,” kata wanita itu. “Dia melakukan apa yang bisa dilakukannya.”

Wanita muda itu tersenyum masam dan mengalihkan pandangan, mengakhiri percakapan itu.

“Sebagai calon imam, dia mengambil langkah-langkah yang berani,” wanita lain itu melanjutkan, menatapku meminta dukungan.

Aku sama sekali tidak memahami apa yang mereka bicarakan, jadi aku tidak mengatakan apa-apa. Akhirnya wanita itu bangkit. Gadis di kananku mengedipkan matanya, seolah-olah aku kroninya.

Tapi aku diam karena alasan lain. Calon imam? pikirku. Tidak mungkin! Dia pasti akan memberitahuku.

Ketika ia memulai khotbahnya, aku tidak bisa berkonsentrasi. Aku yakin ia melihatku di tengah-tengah orang yang hadir, dan aku mencoba menebak-nebak apa yang dipikirkannya. Bagaimanakah aku di matanya? Seberapa berbedakah wanita berusia dua puluh sembilan ini dari gadis berusia tujuh belas yang dulu?

Suaranya tidak berubah. Namun kata-katanya sama sekali berbeda.

- ð - - ð - - ð - - ð -

Kau harus mengambil resiko, ia berkata. Kita hanya dapat memahami keajaiban hidup sepenuhnya jika kita mengizinkan hal-hal tak terduga untuk terjadi.

Setiap hari Tuhan memberi kita matahari – juga satu saat ketika kita mampu mengubah segala sesuatu yang membuat kita tidak bahagia. Setiap hari, kita berpura-pura belum mengalaminya, menganggap saat itu tidak ada – bahwa hari ini sama dengan hari kemarin dan tidak akan berbeda dengan hari esok. Namun jika setiap hari manusia bersungguh-sungguh memperhatikan kehidupannya, mereka akan menemukan saat magis itu. Saat itu bisa saja muncul ketika kita melakukan sesuatu yang remeh, seperti menyelipkan anak kunci pintu muka ke lubangnya; saat itu juga bisa bersembunyi dalam keheningan sesudah makan siang, atau dalam seribu satu hal yang bagi kita tampak sama saja. Tapi saat itu ada – saat ketika segenap kekuatan bintang menjadi bagian dari kita dan memungkinkan kita menciptakan mukzizat.

Kebahagiaan terkadang adalah berkat, namun lebih sering berupa penaklukan. Saat magis membantu kita berubah dan mengantar kita mencari mimpi-mimpi kita. Benar, kita akan menderita, kita akan menghadapi masa-masa sulit, dan kita akan mengalami banyak kekecewaan – namun semua itu hanya sementara; tidak akan meninggalkan bekas yang kekal. Dan suatu hari kita akan menoleh, dan memandang perjalanan yang telah kita tempuh itu dengan penuh kebanggaan dan keyakinan.

Betapa malangnya orang yang takut mengambil resiko. Mungkin orang ini takkan pernah kecewa; mungkin ia takkan menderita layaknya orang yang mengejar impiannya. Namun ketika orang itu menoleh – dan pada satu titik dalam hidupnya, setiap manusia pasti akan menoleh ke belakang – ia akan mendengar hatinya berkata, “Apa yang kau lakukan dengan semua mukzizat yang Tuhan berikan dalam hidupmu.”

Betapa malangnya orang-orang yang harus menyadari hal ini. Karena ketika mereka akhirnya percaya pada mukzizat, saat-saat magis dalam hidup mereka telah berlalu.

- ð - - ð - - ð - - ð -

Seusai khotbah, para hadirin merubunginya. Aku menunggu, dalam hati aku mengkhawatirkan kesan pertamanya terhadapku setelah bertahun-tahun ini. Aku seperti kanak-kanak – gelisah, tegang karena aku tidak mengenal teman-teman barunya, dan cemburu karena ia lebih memperhatikan yang lain dan bukannya aku.

Ketika akhirnya menghampiriku, wajahnya merona. Ia tidak lagi tampak seperti laki-laki dewasa yang mengatakan hal-hal yang penting, melainkan anak laki-laki yang bersembunyi bersamaku di tempat pertapaan di San Saturio, yang menceritakan kepadaku mengenai mimpinya yang melanglang buana (sementara orang tua kami menghubungi polisi, yakin kami telah tenggelam di sungai).

“Pilar,” ia berkata.

Kucium dia. Aku bisa saja memuji khotbahnya. Aku bisa saja mengatakan bosan berada di tengah begitu banyak orang. Aku bisa saja melontarkan komentar konyol tentang masa kecil kami atau mengatakan betapa bangga aku melihat dirinya di sana, begitu dikagumi orang.

Aku bisa saja mengatakan aku akan segera pergi dan naik bus terakhir ke Zaragosa.

Aku bisa saja. Apakah arti perkataan ini? Sepanjang kehidupan kita, ada hal-hal yang semestinya terjadi namun toh tidak terjadi. Saat-saat magis itu berlalu tanpa disadari, dan kemudian tiba-tiba, tangan takdir mengubah segalanya.

Itulah yang terjadi padaku saat itu. Dari semua hal yang bisa kulakukan atau katakan, aku malah melontarkan pertanyaan yang membawaku ke sungai ini seminggu kemudian, dan membuatku menuliskan kata-kata ini.

“Bisakah kita minum kopi bersama?” aku berkata.

Sambil berpaling menatapku, ia menyambut tangan yang ditawarkan takdir itu.

“Aku perlu berbicara denganmu. Besok aku akan khotbah di Bilbao. Aku membawa mobil. Ikutlah denganku.”

“Aku harus kembali ke Zaragosa,” sahutku, tanpa menyadari inilah kesempatan terakhirku.

Lalu aku mengejutkan diriku sendiri – mungkin karena melihatnya, aku menjadi kanak-kanak lagi… atau mungkin jangan-jangan bukan kita yang menentukan saat-saat terbaik dalam hidup kita. Aku berkata, ”Tapi sebentar lagi mereka akan merayakan perayaan Maria yang Dikandung Tanpa Noda di Bilboa. Aku bisa pergi ke sana bersamamu, lalu melanjutkan ke Zaragosa.”

Hampir saja aku menanyakan tentang dirinya menjadi “calon imam”. Pasti ia membacanya di wajahku, karena ia bergegas berkata, “Kau ingin menanyakan sesuatu?”

“Ya. Sebelum kau tadi berkotbah, seorang wanita mengatakan kau telah mengembalikan apa yang dulu dimilikinya. Apa maksudnya?”

“Oh, itu tidak penting.”

“Tapi bagiku penting. Aku tidak tahu apa-apa mengenai kehidupanmu; aku bahkan terkejut melihat banyak sekali yang hadir tadi.”

Ia tertawa, kemudian berbalik untuk menjawab pertanyaan orang-orang.

“Tunggu,” tukasku seraya meraih tangannya. “Kau tidak menjawab pertanyaanku.”

“Kurasa kau tidak tertarik, Pilar.”

“Pokoknya aku ingin tahu.”

Ia menarik nafas dalam-dalam dan mengajakku ke sudut ruangan. “Semua kepercayaan besar – Yahudi, Katolik, dan Muslim – bersifat maskulin. Para prialah yang mengendalikan dogma, mereka menciptakan hukum dan peraturan, dan biasanya semua imamnya laki-laki.”

“Itukah yang dimaksud wanita tadi?”

Setelah ragu sejenak ia menjawab, “Ya. Aku memiliki pandangan yang berbeda: aku percaya sisi feminim Tuhan.”

Aku mendesah lega. Wanita itu keliru; tak mungkin laki-laki ini calon imam karena calon imam tidak memiliki pandangan seperti ini.

“Penjelasanmu sangat bagus,” aku berkata.

Mengamati sepenggal kisah tersebut diatas, dan mempelajari novel “Sang Alkemis” yang juga ditulis oleh Paulo Coelho terlihat bahwa penulis memang sangat mengharapkan pembacanya untuk berusaha keras mewujudkan impian-impiannya dan tidak pasrah pada nasib. Paulo Coelho terkenal sebagai penulis yang cukup produktif.

Tidak ada komentar: