LES MISÉRABLES (Part 2)
Karya Victor Hugo
FANTINE
Kejatuhan
I
SEJAM sebelum matahari tenggelam, pada suatu petang di awal bulan Oktober 1815, seorang lelaki berjalan ke
Keringat, hawa panas, perjalanan panjang dan berdebu, menambahkan kedekilan yang tak terkatakan pada penampilannya yang compang-camping.
Rambutnya tercukur, tetapi tegak karena mulai tumbuh sedikit dan tampaknya sudah lama tak dirapikan.
Ketika sampai di ujung Rue Poichevert ia berbelok ke kiri dan melangkah menuju kantor walikota. Ia masuk dan seperempat jam kemudian beranjak keluar.
Di D__ terdapat sebuah penginapan bagus bernama La Croix de Colbas.
Pejalan kaki itu membelokkan langkahnya ke penginapan terbaik di
Saat mendengar pintu terbuka dan seorang pendatang masuk, pemilik penginapan itu berkata tanpa mengalihkan pandangan dari tungku, “Apa yang anda inginkan, Monsieur?”
“Sesuatu untuk dimakan dan tempat menginap.”
“Ah, gampang itu,” ujarnya, tapi saat ia menoleh dan mengamati pejalan itu, ia menambahkan , “asal bayar.”
Lelaki itu mengeluarkan dompet kulit besar dari sakunya dan menyahut,”Aku punya uang.”
“Kalau begitu,” kata pemilik penginapan, ”Aku akan melayani Anda.”
Lelaki itu mengembalikan dompetnya ke dalam saku, menurunkan gembolan dan meletakkannya di dekat pintu. Ia memegang erat tongkatnya dan duduk di sebuah bangku pendek dekat perapian. D__, terletak di daerah pergunungan, malam hari di bulan Oktober terasa dingin di
Seraya terus hilir mudik, si pemilik peginapan mengamati pejalan itu dengan teliti.
“Apakah makam malam sudah hampir siap?” tanya lelaki itu.
“Segera.” ujar pemilik penginapan.
Saat si pendatang itu tengah menghangatkan diri dengan membelakangi pemilik penginapan, maka Jacquin Labarre, si pemilik penginapan, mengambil sebatang pensil dari sakunya lalu menyobek secarik kertas tua yang ditariknya dari sebuah meja kecil dekat jendela. Dia menulis satu dua baris kalimat, melipatnya, lalu mengenggamkan kertas itu pada seorang bocah yang biasanya menjadi pesuruh. Ia membisikkan sebuah kata pada si bocah dan bocah itupun segera berlari ke arah kantor wali
Si pengembara tak melihat semua ini.
Ia kembali bertanya utuk kedua kali, “Apakah makan malan sudah siap?”
“Ya, sebentar,” ujar pemilik penginapan.
Bocah itu telah kembali membawa kertas. Pemilik penginapan tergesa membuka lipatannya seperti seseorang yang tengah menunggu jawaban. Ia tampak membaca dengan penuh perhatian, lalu menggelengkan kepalanya sedikit, berpikir sejenak. Kemudian dia melangkah mendekati si pejalan yang tampaknya tengah hanyut dalam lamunan.
“Monsieur,” ujarnya, “Aku tak bisa menerima Anda. Aku tak punya kamar lagi.”
“Hm,” dengus si lelaki, “sebuah tempat di pojok loteng pun jadilah, asal ada tumpukan jerami. Akan kita lihat nanti setelah makan malam.”
“Aku juga tak bisa memberi Anda makan malam.”
Pernyataan ini, yang dikatakan dengan nada tegas, tampak serius bagi si pelancong. Ia bangkit.
“Bah! Tapi aku nyaris mati kelaparan.”
“Aku tak punya apa-apa,” ujar pemilik penginapan.
Lelaki itu tertawa dan menoleh pada tungku.
“Tak ada apa-apa! Dan apa itu semua?”
“Semuanya sudah dipesan.”
Lelaki itu duduk lagi dan berkata tanpa meninggikan suaranya, “Aku ada di penginapan. Aku lapar dan aku akan tinggal.”
Pemilik penginapan menurunkan kepalanya dan berkata dengan nada yang membuatnya bergetar, “Pergilah!”
Mendengar kata ini, si pejalan yang tengah menunduk seraya mempermainkan arang di perapian dengan ujung tongkatnya mendadak berpaling dan membuka mulut seakan hendak menjawab. Pemilik penginapan itu menatap tenang padanya dan kembali berkata dengan nada rendah, “Berhentilah. Sudah menjadi kebiasaanku untuk berlaku sopan pada semua orang. Pergilah!”
Lelaki itu menundukkan kepala , mengambil gembolannya dan beranjak keluar.
Ia mengambil arah jalan raya. Ia berjalan tak beraturan, menyelinap dekat rumah-rumah seperti seseorang yang sedih dan terhina. Ia tak sekalipun menengok. Andai ia menengok, ia akan melihat penjaga penginapan Croix de Colbas berdiri di muka pintu dan berkata penuh semangat dan menunjuk-nunjuk ke arahnya dengan dikerubungi semua tamu penginapan dan para pejalan kaki. Dari tatapan ketakutan dan kecurigaan yang mereka lontarkan, ia mengira jauh sebelum kedatangannya, ia telah menjadi bahan perbincangan seluruh
Ia tak melihat semua itu. Orang-orang yang tengah diliputi persoalan tak akan menatap ke belakang. Mereka mengetahui bahwa nasib buruk mengikuti langkah mereka.
Ia berjalan sepanjang jalan, mencari lorong-lorong dimana ia tak dikenali orang, melupakan rasa lelah dan kesedihan. Tiba-tiba ia merasakan sengatan rasa lapar. Malam telah datang.
Beberapa bocah yang membuntutinya dari Croix de Colbas melemparinya dengan batu dan kerikil. Ia menoleh dengan marah dan mengancam mereka dengan tongkatnya. Bocah-bocah itu bubar berlarian seperti sekawanan burung.
Ia melintasi penjara. Sebuah rantai besi menggantung di muka pintu, terhubung dengan bel. Ia membunyikannya.
Gerbang terbuka.
“Monsieur Sipir,” ujarnya seraya membuka topi dengan hormat, “maukah Anda membuka pintu dan membiarkan aku menginap malam ini?”
Sebuah suara menyahut, “Penjara bukanlah penginapan. Kalau dirimu ditangkap, baru kami membuka pintu untukmu.”
Gerbang itu kembali tertutup.
Malam makin kelam. Hawa dingin Pegunungan Alpen berhembus.
Ia mulai gemetar kembali, mencoba berjalan keluar dari
Bumi jadi lebih terang daripada langit karena pantulan cahaya. Bukit itu diterangi cahaya remang dan pucat yang memantul dari cakrawala. Keseluruhannya tampak seram, mengerikan dan muram. Di bukit itu maupun di ladang tak ada apapun selain sebatang pohon jelek yang tumbuh meliuk dan melengkung beberapa langkah dari si pejalan.
Ia kembali menjejaki langkahnya semula. Gerbang
Saat itu sudah pukul delapan malam, karena ia tak mengenal jalan-jalan
Ia melewati kantor prefektur, lalu seminari. Saat melintasi halaman katedral, ia mengacungkan tinjunya.
Di pojok halaman katedral terdapat kantor percetakan. Karena rasa lelah dan putus harapan yang membuatnya kehabisan tenaga, ia membaringkan diri di atas sebuah bangku batu di depan kantor percetakan.
Tak lama kemudian seorang perempuan tua keluar dari gereja. Dia melihat seorang lelaki terbaring dalam gelap. Dia lalu berkata, “Sedang apakah kau, Kawan?”
Lelaki itu menjawab ketus dengan nada marah, “Kau lihat bukan, aku sedang akan tidur.”
Perempuan yang baik itu adalah Madame la Marquis de R__.
“Di atas bangku itu?” ujarnya. “Kau tak boleh melewatkan malam seperti itu. Kau pasti kedinginan dan kelaparan. Mereka seharusnya memberimu tempat menginap.”
“Aku sudah mengetuk semua pintu.”
“Lalu bagaimana?”
“Semua orang mengusirku.”
Perempuan baik hati itu menyentuh lengan si lelaki dan menunjuk kea rah sebuah rumah kecil di samping istana uskup di Seberang halaman katedral.
“Kau telah mengetuk semua pintu?” tanyanya.
“Ya.”
“Sudahkah kau mengetuk pintu rumah itu?”
“Belum.”
“Ketuklah.”
Demikian sebahagian penggalan Novel “Les Misérables” yang mengisahkan nasib seorang bekas narapidana dan para pengemis pada abad pertengahan atau tepatnya menjelang Revolusi Perancis yang dikemas dengan apik dan mengagumkan oleh Victor Hugo, salah seorang sastrawan besar hingga saat ini. Ia juga diduga merupakan salah seorang anggota biara sion. Terlepas dari berbagai posisinya, karyanya ini layak dibaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar