PUTRI TUHAN
Oleh Lewis Perdue
Judul Asli “Daughter Of God”
Penerbit Dastan Books,
Penerjemah : Bima Sudiarto
627 Halaman
Satu
ZOE RIDGEWAY langsung bisa mencium dan merasakannya begitu melewati ambang pintu mansion – rumah besar – bergaya Swiss itu. Ia mencoba memastikan apakah ia sedang berkhayal. Deretan lukisan Rembrandt yang digantung begitu sederhana di lorong masuk juga tak mampu mengubah keyakinannya bahwa kematian memang bersemayam di sini.
“Herr Max sedang menunggu anda.” Ujar seorang lelaki tinggi berpakaian formal dalam aksen Inggris, seraya membungkuk kaku. “Mohon ikuti saya.”
Ia mengikuti lelaki besar berotot itu melewati kamar-kamar elegan dengan langit-langit tinggi dan tembok putih, yang sarat berisi karya-karya agung para seniman besar. Zoe sadar orang ini bukan sekadar kepala pelayan. Saat lelaki itu membungkuk mengambil secarik kertas yang jatuh, Zoe melihat sarung pistol di balik kemejanya. Ia menikah dengan lelaki yang biasa membawa-bawa benda seperti itu, jadi cukup ahli memergoki senjata tersembunyi tanpa disadari.
Sambil melangkah mengikuti si pengawal melewati ruangan demi ruangan, Zoe menutupi perasaan girang di hatinya. Sebagai seorang juru taksir atau lelang barang-barang seni, ia biasa mendapatkan dan memindahtangankan harta karun karya-karya seni kelas dunia. Mahakarya adalah makanan sehari-harinya. Tapi kini dia berjuang menutupi kekaguman saat mengenali satu persatu lukisan para maestro yang bergantungan layaknya pajangan biasa di ruang menggambar. Di dinding, di atas sebuah harpsichord bersepuh emas, ia mendapati karya Tintoretto yang sudah hilang sejak tahun pertama Perang Dunia II. Di sebelahnya ada Chagall yang diduga hangus terbakar semasa kampanye Nazi melawan dekadensi seni. Senandung riang memenuhi kepala Zoe, sementara matanya berkeliling.
Tiba di ruang duduk, si pengawal memberi tanda agar ia menunggu. Di ujung ruangan Willi Max duduk di atas kursi roda faux-bauhaus-nya, membelakangi Zoe. Lelaki itu tampak lebih mirip mayat ketimbang manusia hidup.
Keheningan pecah oleh nafas Max yang tersengal-sengal. Si pengawal datang menghampiri, membungkuk, dan berbisik. Willi Max kontan duduk tegak. Bergerak kaku seperti boneka tali. Si pengawal memutar kursi roda menghadap Zoe.
“Selamat datang di rumahku.” Ujar Max hangat. Cukup mengejutkan karena suaranya terdengar kokoh. Si pengawal mendorong kursi roda ke arah Zoe. Max seorang lelaki tua keriput dengan mata biru bening yang berpendar, bersaput gletser seputih matahari. Tangannya terulur gemetar. “Senang anda bersedia datang secepat ini.”
Zoe menyalaminya. Terasa kering, ringan, nyaris tak terasa. Seolah nyawa telah lama meninggalkan bagian tubuhnya yang satu itu.
“Suatu kehormatan buat saya,” jawab Zoe tulus tapi tetap sopan.
Wajah Max nyaris bergeming, tetapi matanya berkilat mengiyakan.
“Sekarang ikuti aku!” ujar Max mengakhiri basa-basi. Ia mengangguk kepada si pengawal. “Umurku tak panjang lagi, sementara begitu banyak yang harus kukerjakan,” lanjutnya. Si pengawal memutar dan mendorong kursi roda melewati ruang gambar berlantai kayu menuju sebuah rak buku besar. Zoe mengikuti dan berdiri di atas bentangan karpet
Dengung lembut mengisi ruangan saat nomor kombinasi dimasukkan. Telapak tangan Zoe basah menahan ketegangan. Ia merenggangkan jemarinya dan mencoba berpura-pura merapikan rok kelabu panjang yang ia kenakan. Ia melihat berkeliling dan memerhatikan. Musik di kepalanya berubah-ubah seiring matanya berpindah dari satu lukisan ke lukisan lain di ruangan itu.
Zoe mencoba mengingat apa saja yang sudah dilihatnya sejauh ini. Tak boleh ada catatan tertulis pada tahap ini. Max sangat menyadari efek yang ditimbulkan koleksi lukisannya pada orang lain, dan sejak awal bersikeras agar Zoe “mengalami” sendiri karya-karya seni itu lebih dulu sebelum diganggu oleh rutinitas pekerjaan. Bukan kali pertama seorang klien mencoba memengaruhi taksiran, dengan cara seperti ini, dan sepertia biasa, ia sendiri juga sudah siap. Sementara si pengawal sibuk dengan keypad kendali dan Max menghadap ke arah lain. Zoe menyelipkan satu tangan ke balik blazer untuk memastikan bahwa tape recorder mini masih menyala. Ini memang bukan kali pertama seseorang mencoba menggoyahkan objektivitasnya, tapi untuk pertama kalinya hal itu berhasil.
Sepanjang hidupnya Zoe mencintai seni, dengan gairah yang cukup untuk diwujudkan sebagai profesi. Namun, walau puas dikelilingi objek-objek terindah di dunia dan benda-benda bersejarah, ia selalu bermimpi menemukan harta karun terpendam – menggali kembali mahakarya seni yang tak dikenal yang harganya hampir tak ternilai.
Kini justru merekalah yang menemukannya.
Kurang dari empat puluh delapan jam yang lalu, Willi Max menelponnya dan memohon maaf saat Zoe mengingatkan bahwa saat itu masih tengah malam di
“Aku sedang sekarat,” jelas Max datar. “Lebih cepat dari kebanyakan orang. Waktuku tak banyak. Aku harus memanggil anda sebelum berubah pikiran atau ….” Ia biarkan sisanya tak terucap. Sudah jelas apa yang dia maksud.
Zoe tak pernah mendengar nama Max dan nyaris memutus pembicaraan karena setengah yakin bahwa ini pasti telepon iseng. Tapi dari bahasa Inggris Max yang terucap dengan jelas, aksen Jerman yang angkuh dan getaran ketulusannya, membuat Zoe terus menyimak meski dibayangi kantuk.
“Aku ingin mengatur wasiat untuk pusaka peninggalanku. Warisanku,” lanjut Max. Warisan. Bukan koleksi. Zoe ingat percakapan itu sekarang, da baru mulai mengerti maksud sesungguhnya.
Kantuk langsung lenyap begitu Max menawarkan angka sepuluh kali lipat dari biaya normal agar Zoe mau menunda semua jadwal dan segera terbang ke
“Aku sudah mendengar bahwa anda adalah ahli sejarah seni terbaik di dunia,” ujar Max lagi. “Dan jujur ……. Kejujuran – ini yang utama. Aku ingin koleksiku ditangani dengan jujur ……. dengan bermoral.”
Cukup lama keduanya diam. Zoe sempat cemas apakah orang tua itu mendadak stroke dan mati, tapi kemudian terdengar batuk berkepanjangan. Setelah reda, Max melanjutkan, “Aku telah membaca semua karya tulis anda, “katanya, bahkan buku-buku …..dan” – ia batuk lagi sebentar – “dan semua artikel tentang Anda … aku percaya anda akan mengerti. Sangat penting bagiku agar anda mengerti.”
Seolah merasakan keenganan lawan bicaranya, Max mengunci komitmen Zoe malam itu dengan mengatakan bahwa ia akan mengatur sejumlah pembayaran untuk suaminya juga, karena koleksinya melibatkan benda-benda tertentu yang membutuhkan sentuhan seorang ahli di bidang manuskrip keagamaan dan relikui – hal-hal yang menurut riset Max memag bukan bidang Zoe. Berdasarkan riset itu pula Max mengetahui bahwa Zoe kerap bekerjasama dengan suaminya, Seth Ridgeway, seorang profesor bidang filosofi/ religi komparatif di UCLA. Spesialisasi Seth khususnya pada masa-masa subur perkembangan agama dari tahun 500 BC (Before Christ–Sebelum Masehi) sampai AD 700 (Anno Domini–Setelah Masehi).
Suara siulan panjang bernada rendah dari sistem alarm memutuskan lamunan Zoe. Ia menatap saat si pengawal membuka pintu besi. Max tampak bersemangat seiring bukaan pintu dan berusaha duduk nyaris tegak di kursi roda. “Silakan my dear,” ajaknya sopan. Zoe menatap si pengawal yang mengonfirmasi izin dengan sedikit membungkukkan tubuh dan anggukan kepala.
Tak sampai beberapa detik, Zoe melangkah melewati pintu rahasia dan memandang berkeliling. Langit-langit ruangan tingginya paling tidak empat puluh kaki (12,2 meter), tembok di cat berwarna tulang (mengarah ke putih tapi tidak putih) untuk memfokuskan optik dan pencahayaannya pada objek-objek yang ada dalam ruangan. Nyaris seperti umumnya ruangan yang selalu ia lihat di mansion mana pun, ruangan ini nyaris merupakan persilangan antara galeri dan gudang–begitu penuh karya seni sampai sulit memfokuskan perhatian satu demi satu. Namun begitu, Zoe mulai memerhatikan lebih cermat, kulitnya serasa merinding saking takjub. Dihadapannya tergantung lukisan Vermeer yang legendaries, yang selama ini hanya diketahui dari surat-surat si pelukis tapi tak pernah benar-benar terlihat wujudnya.
Simfoni klasik bertaut dalam deburan jantung. Merutuhkan sisa-sisa pertahanan terakhir objektivitas intelektual Zoe. Saat itu ia hanya ingin membuka jiwa pada keindahan lukisan serta musik yang tercipta dalam batin.
Zoe melangkah mendekati lukisan Vermeer dan hanyut dalam bayangannya. Kedalaman dan perspektif luar biasa dari lukisan itu mengundangnya masuk lebih jauh. Setelah lukisan Vermeer, mata Zoe jatuh pada sebuah kotak berisi Leonardo codex – gulungan naskah kuno dari zaman Leonardo Da Vinci, yang setahu Zoe tak termasuk dalam catalog yang pernah tercatat atau diketahui. Zoe berputar perlaha. Dengan cepat ia mencatat sebuah lukisan Van Gogh tak dikenal, lukisan Picasso yang dianggap telah musnah terbakar, Alkitab Gutenberg, dan Kitab Taurat dari Kuil Raja Sulaiman.
Zoe serasa mimpi berjalan saat berkeliling dalam ruangan fantastis ini. Buku-buku langka tersusun rapi di sebuah rak mahoni, berbagai manuskrip dan gulungan perkamen kuno menumpuk di peti kaca. Tulisan-tulisan keagamaan dari gua-gua dan reruntuhan yang kerap diperdagangkan Suku Badui di pasar gelap ratusan tahun sebelum Naskah Laut Mati ditemukan, juga ada.
Zoe sadar bahwa satu dari masing-masing benda ini sudah cukup jadi pusat daya tarik sebuah museum besar. Tak terbayangkan kalau digabung semua. Kepalanya pusing. Simfoni menemani setiap langkahnya.
Perjalanan mengelilingi ruangan membawa ia kembali berhadapan dengan Max. Dan saat menatapnya, Zoe melihat wajah Max begitu gembira melihat koleksinya mampu membuat takjub seorang ahli yang terkenal tidak mudah takjub.
“Saya tak tahu harus berbuat apa,” ujar Zoe kelimpungan. Pipinya terasa panas sementara dirinya berjuang mengembalikan ketenangan.
“Aku yakin kata-kata saja tak akan cukup,” jawab Max. Kepalanya gemetar memandang ke atas. Untuk memudahkan, Zoe segera duduk di sofa Meis van der Rohe sambil terus berjuang mencerna keterkejutannya.
Max melongok lalu mengangguk menyuruh si pengawal pergi, yang kemudian keluar menutup pintu.
“Seperti anda pahami sekarang, ini adalah pusaka peninggalanku, bukan sekedar koleksi,” Max memulai. Kata-kataya mengalir di sela-sela batuk kecil dan nafas tersengal. “Aku ingin anda membantu menebus dosa untuk pusakaku ini.”
Zoe menatap tak mengerti.
Max memejamkan mata beberapa lama, kemudian melanjutkan, “Lebih dari setengah abad lalu, aku masuk wajib militer di Wehrmacht–angkatan bersenjata Third Reich, Nazi. Aku salah satu diantara mereka yang dipaksa bertugas di pegunungan
“Hitler telah merampok banyak sekali koleksi-koleksi agung dan di tambang itulah karya-karya seni itu disimpan. Aku kenyang melihat berbagai macam hal, dan ada satu hal yang aku rahasiakan sejak saat itu.”
Batuk hebat menyerang tubuh ringkih Max, membuat si pengawal menghambur masuk. Max menghela nafas panjang seraya menepis uluran tangan si pengawal, menyuruhnya pergi lagi.
“Ketika Sekutu datang, aku–dan banyak kamerad lain–melarikan diri. Masing-masing membawa sebanyak-banyaknya karya seni, koin emas, manuskrip, dan relikui keagamaan yang bisa kami bawa.
“Aku berhasil tiba di
“Waktu itu situasi sungguh sulit,” Max menjelaskan. “Pasar sedang jenuh, pembelian dan penjualan secara kontan sangat langka, semua orang lebih memikirkan bagaimana bertahan hidup. Yang anda lihat sekarang ini ku peroleh dengan harga sangat murah ketimbang apa yang sebenarnya mampu kubayar. Kusimpan sebisanya dan membuang apa yang bisa dibuang untuk biaya hidup……..sekaligus menambah koleksi.”
Mata Max menatap ruangan. “Harap dipahami bahwa aku terpaksa. Aku jatuh cinta pada barang-barang seni. Mereka yang memiliki aku dan bukan sebaliknya.”
Zoe mengangguk. Ia merasakan sendiri daya tarik tak tertahankan pada harta karun di ruangan ini.
Sekali lagi tubuh Max dibadai batuk hebat.
“Aku sadar betapa berdosanya meyimpan ini semua sedemikian lama. Itu sebabnya aku butuh bantuanmu menebusnya.”
Zoe mengangkat alis tak mengerti.
“Kebanyakan dari benda-benda ini adalah barang curian. Aku ingin dikembalikan sebanyak mungkin ke pemilik–atau keturunan mereka. Untuk biaya ini aku telah mentransferkan sejumlah uang ke rekening
“Rekening ini atas nama anda dan suami anda. Siapapun diantara kalian bisa menariknya. Jumlahnya beberapa kali lipat komisi yang biasa anda terima dari menjual barang seni di pelelangan.”
Kepala Zoe berputar bagai gasing. Itu berarti uang bernilai puluhan juta dolar.
“Kalau tak sanggup melacak pemilik aslinya, aku ingin anda memutuskan sendiri ke museum public mana saja barang-barang ini bisa diserahkan sebagai donasi.
Zoe membuka mulut, tapi tak sepatah katapun terucap.
Max menggeleng. “Jangan,” katanya. “Pikirkan saja dulu. Pertimbangkan masak-masak-masak. Bicarakan dengan suami anda, karena sebenarnya ada tanggung jawab lebih besar yang ingin kubebankan kepada kalian–jauh, jauh lebih besar dan lebih penting. Lebih bernilai dari barang seni apapun. Sebuah rahasia kuno. Sebuah kebenaran religius. Pengetahuan yang mampu merubah seluruh arah perjalanan hidup manusia.”
“Apakah itu ……..?”
Kembali Max menggeleng. “Di meja disampingmu itu …..?”
Zoe melongok dan untuk pertama kalinya melihat sebuah tas kulit di atas meja lampu di samping tempat duduknya.
“Berikan kepada suami anda. Risetku menyatakan bahwa ia fasih membaca bahasa Yunani Kuno, benar?”
zoe menganguk seperti orang bodoh.
“Dia pasti ingin segera membaca yang satu ini,” Max batuk hebat sejenak. Saat reda, ia meneruskan. “Aku juga akan mengirim sesuatu untuk anda lewat kurir. Sesuatu yang harus aku ambil dari saluran yang lebih aman.”
Lebih aman dari ini? Zoe heran. Apalagi yang lebih penting dari semuaini?
Max berkedip menatap Zoe. “Aku baru saja–saat ini–memutuskan mengirim benda itu pada anda.”
“Kenapa?”
“Karena aku melihat kebenaran di mata anda,” jawab Max. “Setiba kiriman itu, mohon segera diperiksa. Bicarakan dengan suami anda. Kalian harus saling jujur dan terbuka soal keputusan yang akan diambil. Lalu temui aku lagi besok untuk memberi jawaban. Kita akan mulai bekerja di tempat ini.”
Menurut penulis, novel fiksi ini disusun berdasarkan berdasarkan fakta. Untuk itu dipandang perlu bagi pembaca untuk menguji kebenaran fiksi ini dengan literature-literature sejarah lainnya. Selamat mencoba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar