LEO THE AFRICAN (Bag.1)

Sabtu, 12 Januari 2008

LEO THE AFRICAN

Oleh Amin Maalouf

Penerbit Abacus, London, 1994

Terjemahan Indonesia oleh Ahmad Santoso

Diterbitkan dalam Edisi Indonesia oleh PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2005

605 Halaman

Akulah Hasan, putra Muhammad si juru timbang. Akulah Johanes Leo de Medici, yang disunat oleh tukang cukur dan dibaptis oleh tangan Sri Paus. Sekarang aku dijuluki si orang Afrika, tapi aku bukan dari Afrika. Aku juga bukan dari Eropa maupun dari Arabia. Aku dijuluki sebagai orang Granada, orang Fez, orang Zayyati, tapi aku tidak berasal dari Negara, dari kota, atau dari suku manapun. Akulah si anak jalanan, negaraku adalah sebuah kafilah, hidupku adalah perjalanan yang penuh hal-hal yang tak terduga.

Tanganku ganti berganti sudah merasakan lembutnya belaian sutra, kasarnya wol, meraup emas para pangeran, dan dibelenggu oleh rantai budak. Jari-jariku telah menyingkap ribuan cadar, bibirku telah membuat ribuan perawan tersipu malu, dan mataku telah melihat kota-kota jatuh dan kekaisaran- kekaisaran runtuh.

Dari mulutku engkau akan mendengar bahasa Arab, Turki, Castilia, Berber, Ibrani, Latin, dan bahasa Italia kasar, sebab semua bahasa dan semua doa adalah milikku. Tapi aku bukan milik mereka. Aku semata-mata milik Tuhan dan milik bumi. Dan kepada keduanya pada suatu hari nanti aku akan segera kembali.

Namun engkau akan tetap ada sepeninggalku, wahai putraku. Dan engkau akan membawa kenanganku bersamamu. Engkau akan membaca buku-buku yang aku tulis. Dan tamasya ini kelak mendatangimu: ayahmu, yang mengenakan pakaian ala Napoli, duduk di atas kapal yang akan membawanya ke Pantai Afrika sambil menulis, seperti pedagang yang menghitung rugi labanya pada akhir dari sebuah perjalanan panjang.

Tapi bukan itu yang aku lakukan, sebab semua itu telah aku dapatkan akan lepas juga nantinya dari tanganku. Apakah yang kelak harus aku katakan kepada Sang Pencipta Yang Maha Agung? Dia telah menganugerahiku empat puluh tahun kehidupan. Masa selama itu telah aku lewatkan dengan pergi kemanapun angin membawaku. Kebijaksanaanku telah menjulang di Roma, gairahku di Kairo, kepedihanku di Fez, namun keluguanku masih berjaya di Granada.¤

I. GRANADA

Salma Al-Hurra

894 Hijriah

5 Desember 1488-14 November 1948

Pada tahun itu, bulan suci Ramadhan jatuh pada puncak musim panas. Ayahku jarang keluar dari rumah sebelum malam, sebab orang-orang Granada selalu mudah marah di siang hari. Pertengkaran sering terjadi dan hanya orang yang mimik mukanya muram yang dianggap sebagai orang saleh. Hanya orang yang sedang tidak berpuasa yang bisa tersenyum di bawah sengatan panas matahari. Hanya mereka yang tidak peduli pada nasib orang-orang Muslim yang bisa tetap ceria dan ramah di dalam kota ini, yang telah digerogoti oleh perang saudara dari dalam dan diancam oleh orang-orang kafir dari luar.

Aku dilahirkan atas rahmat Tuhan Yang Maha Tinggi pada hari-hari terakhir di bulan sya’ban, persis menjelang tibanya bulan suci. Ibuku, Salma, diperbolehkan tidak berpuasa selama memulihkan tubuhnya setelah melahirkan. Ayahku, Muhammad, berhenti mengeluh di tengah-tengah panas dan lapar Karena telah mendapatkan seorang putra yang akan menyandang namanya dan memanggul senjatanya. Apalagi aku adalah putra pertama. Setiap kali ayahku mendengar orang memanggil dirinya sebagai “Abu’l-Hasan”, bapaknya Hasan, dadanya membusung tanpa kentara. Dia akan mengusap kumisnya lalu menyapukan kedua ibu jarinya perlahan-lahan menuruni jenggotnya sambil memandang ke bilik di lantai atas tempat aku dibaringkan. Namun betapa besarnya sukacita ayahku, masih lebih besar lagi kebahagiaan ibuku. Sekalipun dia didera oleh kesakitan dan kelemahan tubuhnya, dia merasa seolah terlahir kembali oleh kedatanganku di dunia ini. Kelahiranku membuat dia menjadi wanita yang paling dihormati di dalam rumah. Ayahku akan terus menghormatinya selama bertahun-tahun sesudahnya.

Lama setelahnya, ibuku bercerita kepadaku tentang ketakutan-ketakutannya yang telah mereda dengan sendirinya, kalaupun bukan hilang sama sekali setelah aku lahir. Dia dan ayah masih punya hubungan saudara sepupu. Mereka ditunangkan sejak kecil. Setelah empat tahun menikah, dia belum juga mengandung. Sejak tahun kedua perkawinan mereka, dia sudah mendengar perkataan-perkataan tidak enak. Akhirnya suatu hari Muhammad datang ke rumah sambil membawa seorang gadis Kristen cantik dengan rambut hitam dikelabang, yang dibelinya dari seorang prajurit yang menangkap gadis itu dalam sebuah serbuan ke wilayah di dekat Murcia. Muhammad menamai gadis itu Warda, dan menyuruh dia tinggal di sebuah kamar yang menghadap ke halaman dalam. Dia bahkan berniat mengirim gadis itu kepada Ismail si orang Mesir untuk belajar bermain gitar, menari, dan kaligrafi seperti layaknya selir kesayangan sultan.

“ Aku orang bebas dan gadis itu cuma seorang budak,” ibuku berkata,”jadi derajat kami tidak sama. Dia punya segenap muslihat dalam bujuk rayunya. Dia sering keluar tanpa memakai cadar, bernyanyi, menari, menuang anggur, mengedip-ngedip matanya dan melepaskan pakaiannya. Aku sebagai istri yang sah tidak akan berprilaku seperti itu, apalagi sampai menunjukkan ketertarikan pada kesenangan-kesenangan ayahmu. Ayahmu memanggilku ‘sepupuku’ atau menyebutku Al-Hurra,’orang yang bebas’ atau Al-Arabia,’ si orang Arab’. Warda selalu hormat kepadaku sebagaimana layaknya seorang budak hormat kepada majikannya. Tapi jika malam tiba, dialah yang menjadi majikan”.

“Suatu pagi,” ibuku melanjutkan ceritanya, dengan suara yang masih dipenuhi emosi sekalipun semua itu terjadi bertahun-tahun yang silam. “Sarah yang pesolek datang mengetuk pintu. Bibirnya dipoles dengan akar kenari, matanya dibubuhi celak, kuku-kukunya dicat dengan pacar. Sekujur tubuhnya dari atas kepala sampai ujung kaki dibalut dengan sutra berkerut-kerut yang mengeluarkan bau harum semerbak. Dia sering datang untuk menemuiku­–semoga Tuhan memberkati dia, di mana pun dia berada! Dia menjual jimat, gelang, parfum adri lemon, ambergris, melati dan bunga-bunga lili. Dia juga bisa meramal nasib. Begitu dia masuk, dia melihat mataku yang merah. Dan tanpa aku katakan padanya tentang sebab kesedihanku, dia mulai membaca telapak tanganku bagaikan membaca halaman kusut sebuah buku yang terbuka.

“Tanpa mengangkat pandangannya, dia mengucapkan kata-kata yang aku ingat sampai sekarang,’Bagi kita, wanita-wanita Granada, kebebasan adalah perbudakan yang terselubung dan perbudakan adalah kebebasan yang terselubung.’ Tanpa berkata apa-apa lagi, dia mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna kehijauan dari keranjang anyaman yang dibawanya.’ Malam ini engkau harus menuangkan tiga tetes dari isi botol ini ke dalam sirop orgeat dan berikan kepada suamimu dengan tanganmu sendiri. Dia akan datang kepadamu seperti kupu-kupu tertarik pada cahaya. Lakukan lagi setelah tiga malam dan sekali lagi setelah malam ketujuh.’

“Ketika Sarah datang lagi beberapa minggu kemudian, aku sudah mulai mual-mual. Pada hari itu aku berikan kepadanya semua uang yang aku miliki, segenggam penuh dirham persegi dan keping maravedis. dia menari-nari gembira, sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya dan mengentak-entakkan kakinya keras-keras ke lantai kamarku. Keping-keping uang itu bergemerincing di tangannya. Suaranya bercampur baur dengan bunyi juljul, lonceng kecil yang harus dibawa oleh semua wanita Yahudi.”

۞ ۞ ۞

Novel ini diangkat dari kisah nyata kehidupan Hasan Al-Wazzan, petualang dan penulis yang hidup di abad keenam belas. Kisah Hasan dikemas dengan cukup menarik oleh Amin Maalouf. Amin Maalouf adalah wartawan dan penulis berdarah Lebanon. Salah satu karyanya yang lain “Samarkand” memperoleh penghargaan Prix des maisons de la presse. Kisah ini layak dibaca dan direkomendasikan pada rekan dan sahabat.

Tidak ada komentar: