Madonna Sang Pastor (Lanjutan Bag.1-Satu)

Sabtu, 12 Januari 2008

Madonna Sang Pastor (Lanjutan Bag.1-Satu)

Oleh Amy Hassinger

SAAT itu wilayah tersebut bernama Esperaza, suatu kota kecil yang membentang di Dataran Aude. Kami tinggal di sebuah apartemen yang menyenangkan yang terletak di atas toko topi milik ayahku. Tempat itu penuh aroma lak, bulu domba, dan kelinci, dan dipenuhi orang-orang yang duduk berjajar pada bangku kerja seperti patung. Meskipun kami tidak kaya, ayah berpenghasilan lumayan dan menikmati pekerjaannya. Ia mempekerjakan lima orang dan memperlakukannya seperti anggota keluarga sendiri­__ kelima karyawan itu makan siang bersama kami dan tidur di lantai ruang kerja jika mereka bertengkar dengan istri mereka atau sedang mabuk minuman keras. Ayah menghibur dengan berbagai lagu dan pidato politik ketika mereka sedang bekerja. Ia sering berkata bahwa seandainya ditakdirkan untuk hidup lagi. Ia memilih untuk menjadi penyanyi cabaret. “Sudah cukup hidup dengan menjalankan usaha kecil mengurusi bulu domba dan menghitung uang,” bualnya. “Berikan aku sebuah panggung pertunjukan, berikan aku Paris!” ibu biasa melirik-lirikan matanya ketika ayah mulai mengumamkan lagu Coupo Santo dengan suara baritonnya, kumisnya yang seperti gagang kemudi itu pun bergetar.

Apartemen kami kecil, namun menyenangkan: satu kamar tidur, satu dapur, dan satu ruang makan. Ketika cuaca buruk atau sungai mulai meluap, Claude dan aku­­__dan juga saudara angkat kami, Michelle__kadang-kadang turun menjelajahi ruang toko yang hangat untuk menonton orang dan mendengarkan cerita mereka. Dari situlah aku mengetahui cerita tentang perempuan liar yang hidup dengan beruang di wilayah pegunungan, tentang Autanette, anak dewa angin yang diselamatkan ayahnya dari peminang yang tak dikehendaki, dengan merubah pria itu menjadi batu. Dari mereka jugalah aku mendengar cerita mengenai perasaan muak ayah yang begitu besar terhadap Gereja Katolik dan mengenai pandangan sosialisnya yang keras. Ia sangat vokal dan suka berdebat. Ia suka mencari gara-gara dengan para pekerja yang memihak kaum bangsawan, menyerang mereka tanpa ampun dengan berbagai manifesto republiknya. Ada saja pekerja yang menghambur ke luar toko dengan amarah yang mendidih pada kesempatan seperti itu. Biasanya mereka kembali bekerja pada keesokan hari dengan emosi yang sudah terkendali.

Michelle, harus kujelaskan, adalah sahabatku dan menjadi kakak bagiku semenjak aku berusia sepuluh tahun. Ia datang ke rumah persis setelah kematian adikku, Christophe, beberapa bulan setelah kami melakukan ziarah ke Saint Baume. Setelah kematian Christophe, ibu menjadi sering termenung dan tidak lagi mencaci aku dan Claude ketika kami nakal. Ayah merasa khawatir. Ia sering membawa kami berkaleng-kaleng grisettes (red:jamur hutan yang bagian atasnya berwarna coklat atau abu-abu, dengan batang tipis dan berwarna putih) dan tortes (kue tar) yang dikirimkan oleh Madame Levre, adik perempuan salah seorang pekerjanya. Claude dan aku tentu saja senang dengan perlakuan semacam itu. Ibu mengirim sepucuk surat berisi ucapan terima kasih. Aku menduga Monsieur Levre mempunyai keinginan tertentu di belakang kebaikan ini.

Kebetulan bahwa Levre bersaudara ini memiliki seorang keponakan, Monsieur Baron, yang baru saja kehilangan istrinya. Monsieur Baron sangat sedih akibat kehilangan ini. Ia menolak meninggalkan bengkel besinya, terus berada di tempat itu siang malam, dan terus menerus menempa besi. Wajahnya hitam oleh jelaga. Ia sepertinya tak lagi mengenali putrinya sendiri, yang seusia denganku dan membutuhkan gizi yang baik, sekolah dan juga sahabat. Ayah menceritakan hal ini kepada kami pada suatu malam sehabis makan. Aku teringat betapa aku marah kepada ayah karena mengungkapkan cerita semacam itu di hadapan ibu__cerita itu hanya akan membuatnya merasa lebih sedih. Namun keesokan harinya, ketika Michelle tiba dengan sebuah koper berisi bawaan dan seikat bunga lavendel yang mulai layu, aku memahami kenapa ayah menceritakan hal itu.

Ayah pasti berpikir bahwa ibu akan senang kehadiran anak lain di rumah kami, atau barangkali Monsieur Levre adalah penjual hebat. Apapun alasannya, ayahku yang selalu seenaknya itu, telah memutuskan untuk mengadopsi Michelle tanpa merundingkan hal itu dengan ibu. Ibuku marah besar; ia menangis dan meracau. Ia sama sekali tak menginginkan anak lain, apalagi seorang anak perempuan yang menjelang remaja. Ibu menginginkan seorang bayi­­__bayinya sendiri, Christophe__kembali lagi. Apakah ayah tidak bisa membedakan seorang bayi dengan seorang anak perempuan yang menjelang remaja? Tetapi ayah sudah terlanjur berjanji, dan janji itu telah ia berikan kepada Monsieur Levre. Selesai perkara. Aku merasa iba kepada Michelle karena ibu sama sekali tak memedulikannya. Dan, kekhawatirannya mengenai persaingan yang bakal terjadi di antara kami ternyata tidak terbukti. Michelle memiliki rambut hitam yang sering ia kepang, matanya mencerminkan kecerdasan. Ia pasti memahami kesedihan ibu akibat kehilangan Christophe, karena ia tak berani mendekati ibuku untuk bermanja atau sekedar menempelkan tubuh. Hal ini berjalan baik; ibu bisa memerhatikan Michelle dari jauh dan dapat menyaksikan betapa cepatnya aku dan Claude menerima gadis itu. Tak lama kemudian, ia seolah-olah telah menjadi salah satu anggota keluarga kami. Kami justru khawatir kalau suatu hari nanti ayahnya mengambilnya kembali. Ternyata Monsieur Baron meninggal beberapa bulan setelah istrinya, dan Michelle bersama dengan segenap kebijaksanaannya yang bisu dan muram menjadi milik kami sekeluarga.

Novel ini diangkat dari kisah hidup seorang Pastor Berenger Sauniere (1885-1971) dan kehidupannya di Rennes-le-Chateau, yang merupakan salah satu daerah di Perancis, yang merupakan wilayah pemukiman pengikut Nabi Isa (Red:Yesus) dari pelariannya. Keterkaitan dengan cerita yang sama dapat dilihat pula di “Da Vinci Code” karya Dan Brown dan “Da Vinci Code De Coded” karya Martin Lunn.

Tidak ada komentar: